Relationship?
15 Feb 2012 4 Comments
Barusan, seorang teman mengirimi saya sebuah link via Twitter, dengan embel-embel tulisan “Semoga memberi pencerahan”. Begitu saya buka, ternyata isinya membahas tentang hubungan tanpa status. Artikel itu diulas dengan ringan, segar, dan alhasil membuat saya senyum-senyum sesudahnya. Kalau ingin tahu, silakan baca artikelnya langsung ya disini.
Membahas masalah hati, cinta, dan hubungan antara dua insan memang tidak ada habisnya. Sebenarnya sih pusat permasalahannya itu-itu saja, hanya saja kemasannya yang selalu baru, serta media-media pelengkap yang berubah mengikuti jaman. Kalau jaman dulu, galau atau patah hati curhatnya di pinggiran sungai sambil mencuci pakaian, jaman sekarang curcol di jejaring sosial. Puluhan tahun lalu, LDR-an pasti akan terasa sangat menyiksa, tiap hari berdiri di halaman rumah sambil memandang jalanan penuh harap, menanti pak pos datang. Beda dengan sekarang, ada BBM, ada e-mail, ada Skype, sehingga jarak yang jauh terasa dekat. Meskipun begitu, urusan hati ini memang menarik untuk dibahas, topik yang selalu hangat dan tidak pernah basi. Oleh karena itu, saya ingin mengulas (menurut pendapat pribadi, loh) tentang tipe-tipe hubungan antar laki-laki dan perempuan yang tentu saja, jauh lebih berkembang daripada jaman dulu.
1. Hubungan Yang Terlalu Manis
Contoh hubungan ini adalah tiap jam kamu akan menerima bbm atau pesan singkat yang isinya kurang lebih seperti ini: “Kamu lagi apa?”, “Sudah makan belum?”, “Aku kepikiran kamu, nih.”, “Aku kangen kamu.”, “Kamu sayang ga sama aku?”. Atau, tiba-tiba saja di meja kantor kamu ada satu buket bunga besar sekali, lengkap dengan sekotak cokelat serta boneka beruang warna pink, padahal hari itu bukan hari ulang tahun kamu atau hari Valentine.
Pada awalnya, mungkin hal-hal tersebut akan terasa sangat menyenangkan dan membuat hati berbunga-bunga. Tetapi, ibarat makan terlalu banyak cokelat atau pancake Pancious porsi besar dengan ice cream blueberry, lama-kelamaan kamu akan eneg juga dong. Perut kamu akan menolak jika diisi makanan manis lagi. Sama saja dengan hati. Terlalu sering disirami kata-kata atau kejutan-kejutan romantis nan manis, hati kamu akan begah dengan sendirinya, sehingga kamu akhirnya muak dan memutuskan untuk mencari sesuatu yang “tidak terlalu manis”.
2. Hubungan Yang Pas
Hubungan ini termasuk normal in a good way. Dari awal sampai pacaran, semuanya berlangsung lancar, tanpa banyak drama. Kenalan, naksir, pedekate, gayung bersambut, bilang suka, terus pacaran deh. Perhatian, rasa sayang, atau cemburu yang diberikan pun kadarnya normal, tidak kurang, tidak pula berlebihan. Pas. Kamu pun merasa kompatibel dengan pasangan kamu. Mengutip komen Keichirou di postingan saya kemarin:
“Cinta yang bikin nyaman adalah cinta yang ketika kamu memikirkan dia, rasanya membuncah dengan kebahagiaan. Kamu tidak sabar untuk bertemu dia karena kamu bebas menjadi diri sendiri ketika menghabiskan waktu dengan dia. Secara tidak sadar, kamu benar-benar telah jatuh hati kepada orang tersebut, mungkin kamu saja yang tidak sadar kapan dan kenapa.”
3. Hubungan Yang Posesif
Dalam menjalin hubungan ini, kedua belah pihak atau salah satunya memiliki rasa memiliki yang terlampau tinggi. Sedikit bahaya dan penuh drama memang. Bikin stress. Terima telepon, langsung dicurigai. Semua kegiatan kamu dimonitor, melabrak orang yang ngeliatin kamu waktu kalian berdua sedang jalan, meneror kompetitor-kompetitornya dengan menjelek-jelekkan kamu supaya langkah mereka surut. Pokoknya menyebalkan dan membuat amarah naik sampai ubun-ubun, deh. Kalau terjebak dalam situasi ini, segeralah keluar. Akan sangat sulit, malah mungkin akan dibumbui oleh ancaman bunuh diri, atau teriak-teriak di tempat umum (makanya, kalau ingin mengakhiri hubungan dengan orang yang posesif jangan di tempat umum, berdua saja, untuk lebih amannya di depan pos polisi atau pos satpam, jadi kalau ada apa-apa kamu bisa segera meminta perlindungan). Intinya, hubungan jenis ini jelas-jelas tidak sehat. Therefore, akhiri saja sebelum terjadi pertumpahan darah.
4. Hubungan Tanpa Status
Kok rasanya hubungan seperti ini lagi marak-maraknya ya? Mulai dari dunia maya sampai dunia nyata, bahkan merambah layar lebar. Film-film dengan judul seperti “Friends with Benefits” dan “No Strings Attached” semakin mengukuhkan eksistensi kegalauan mereka-mereka yang terjerumus dalam hubungan tidak jelas ini. Kamu biasanya susah move on, dan bingung mau melakukan apa. Dibilang pacaran, mmmmm, tidak pernah ada deklarasi tuh. Dibilang sebatas teman, eh, wait, teman itu ciuman ga sih? Atau pelukan? Atau jalan bareng tiap Sabtu dan Minggu? Nggak, kan? Lantas, kalian itu apa?
Keresahan dan rasa insecurity jelas akan menghantui kamu terus-menerus. Siang-malam, sebelum makan, pas lagi mandi. Suara vokalis Armada senantiasa terngiang-ngiang di telinga, “Mau dibawa kemana hubungan kitaaaaaaa?”. Rasanya kamu ingin teriak di kupingnya, nanyain, “Woooooyyyy, pacaran ga sih kitaaaaa?”.
Kamu takut dia kabur waktu kamu menuntut kejelasan, sementara kamu sendiri masih belum siap kehilangan dia. Atau, kamu ngeri membayangkan jawaban dia, khawatir ditolak, khawatir mempermalukan diri sendiri dan kehilangan harga diri. Tetapi, kamu harus ingat bahwa, ada peluang jika kalian betul-betul jadian. Mungkin dia selama ini malu, atau menunggu waktu yang tepat sebelum mengutarakan cinta.
Untuk menyudahi dilema, alangkah baiknya jika kamu menanyakan persoalan ini ke dia. Itu hak kamu kok. Apapun jawabannya, percayalah itu yang terbaik. Jika dia ternyata freaking out dan kabur, it means he or she’s not worthy enough to be with you. Begitu juga sebaliknya. So, chin up and ask the question!
Bicara Tentang Cinta
14 Feb 2012 2 Comments
in Random, Uncategorized
“Love, ’till it hurts.”
Kebetulan saja kalimat itu muncul di benak saya, yang langsung saya tuangkan di status bbm (seperti biasa menuh-menuhin recent updates kontak bbm :p). Saya pribadi merasa, penggalan kalimat tersebut tidak ada hubungannya dengan hari Valentine yang tinggal setengah jam lagi ini, atau kegalauan yang merendengi hati saya. Those words suddenly popped up in my mind, and I couldn’t resist the urge to write ‘em down.
Beberapa saat setelah kalimat “Love, ’till it hurts” menghiasi bbm saya, seorang teman berkomentar bahwa status bbm saya bagus, yang membuat saya sedikit jemawa. Namun, mengingat fakta bahwa dia bukan tipe orang yang gemar memuji, apalagi memuji saya, ditambah pula dengan ketidakyakinan diri bisa menghasilkan sesuatu yang menarik, saya pun iseng mengetikkan empat kata tersebut di kolom pencarian. And guess what? Ternyata, apa yang saya tulis, nyaris menyerupai quote ternama yang pernah diucapkan oleh Mother Teresa. Lengkapnya kurang lebih begini:
“If you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.” – Mother Teresa.
And it makes me thinking, is it even possible to love someone over and over again, in an abnormal quota, so that you can’t feel anything except for love?
In my humble opinion, cinta adalah sebentuk emosi positif yang pasti dimiliki oleh makhluk hidup. Segala bentuk pengorbanan, kasih sayang, keinginan untuk memiliki, empati, kepedulian, berasal dari apa yang dinamakan cinta ini. Saya sebenarnya sedikit bingung bagaimana caranya mendefinisikan perasaan satu ini, karena konteksnya terlalu luas dan jamak untuk dijabarkan. Bahkan Prof. Albus Dumbledore pun berkata bahwa cinta merupakan misteri dan sihir paling sakti serta kuno yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh seseorang seperti Voldemort.
Intinya, cinta itu adalah sesuatu yang murni, yang tidak memiliki tendensi apa-apa. Tulus. Menggabungkan ucapan Mother Teresa dengan apa yang saya pikirkan, saya menarik kesimpulan, bahwa saking murninya sebuah cinta, ia ibarat penawar yang menghilangkan segala rasa negatif, segala perih serta luka, dan hanya menyisakan kasih sayang, pengorbanan, dan yah, cinta itu sendiri. Well, it’s just my opinion, though. Kebenarannya masih harus dipertanyakan.
Akan tetapi, coba tanya ke diri teman-teman? Pernah tidak mencintai seseorang atau sesuatu sampai sakit rasanya? Saya kira setiap orang pasti pernah merasakan hal tersebut, dengan porsi yang berbeda-beda. Ketika kita mencintai seseorang dengan tulus, kita pasti akan lupa bagaimana rasanya benci, atau apa itu sakit hati. Yang ada hanya sifat-sifat turunan dari cinta; pengorbanan, rasa sayang, perhatian, dan banyak lagi rasa-rasa positif yang muncul.
Jadi, menjawab pertanyaan diatas, apakah mungkin kita mencintai seseorang sampai mengalahkan rasa sakit?
Well, the answer is yes. And I think, I know exactly how it feels.
Jakarta, February 14, 2012, 00:45
Jalan-jalan? Eeeerrrr…
06 Dec 2011 1 Comment
in Random, Uncategorized
“Pai, jalan yuk minggu depan. Ke Ujung Genteng kita.”
“Eeeeerrr… Yakin lu? Itu kan daerah endemik malaria.”“Minggu depan sibuk ga? Kita ke Pulau yuks.”
“Eeeeerrr… Sekarang kan musim penghujan, Vi.”
Penggalan-penggalan percakapan di atas adalah kisah nyata yang saya alami sendiri. Penolakan demi penolakan yang saya dapat semenjak ide untuk melancong ke luar Jakarta saya lontarkan ke beberapa teman terdekat membuat saya sedikit berkecil hati. Bagaimana tidak? Mereka terkesan tidak bersemangat, kalau tidak bisa dikatakan tidak tertarik sama sekali. Dalam hati saya berpikir, sebagai penghuni kota Jakarta yang tiap hari menghadapi rutinitas yang menjemukan, mereka harusnya senang bisa keluar dari Jakarta barang sejenak. Tentu saja, itu egoisme saya yang bicara. Oleh karena itu, untuk menyikapi hal ini dengan lebih adil, saya mencoba menganalisa beberapa alasan mengapa orang menolak ajakan jalan-jalan:
1. Kantong yang sedang galau
Pada umumnya, “tak punya uang” adalah alasan utama seseorang menolak ajakan jalan. Tak bisa dipungkiri memang, uang merupakan sumber daya utama untuk meluluskan niat bertamasya, terlebih lagi jika hendak melakukan perjalanan jauh. Saya sendiri, dengan berat hati dan tak rela, sering mengatakan tidak pada sebuah undangan trip karena alasan ini. Akan tetapi, jalan-jalan tidak harus ke tempat yang jauh, toh? Mengunjungi museum di Jakarta saja sudah merupakan bentuk kunjungan wisata. Ga ada salahnya mencoba menyelami titik-titik sejarah Jakarta, kan? Menyenangkan, memperkaya pengetahuan, dan murah meriah pula.
2. Tidak ada waktu
Nah, menurut saya, alasan ini memiliki dua versi, yaitu versi sebenarnya dan versi white lie. Versi sebenarnya: seseorang memang tidak memiliki kesempatan yang tepat untuk jalan-jalan, entah itu karena pekerjaannya, atau ada urusan keluarga, atau entah apa lagi yang membuat ia menolak. Biasanya, orang seperti ini cenderung menunda rencana perjalanannya sampai akhirnya ia menemukan waktu yang pas. Sementara itu, versi “ngeles” biasanya dilakukan oleh mereka yang tidak mau mengatakan alasan sebenarnya, alias gengsi. Mungkin (ini mungkin loh ya), dana yang mereka punyai defisit tetapi enggan mengutarakan yang sebenarnya, sehingga dipakailah kalimat “lagi sibuk gw” sebagai alibi. Yaaahh, kalau sudah begini, sebagai pihak yang mengajak, tentu saja kita tidak bisa berbuat banyak.
3. Buang-buang duit
Saya memaklumi alasan ini, meskipun terdengar sedikit kejam. Tiap orang kan beda prioritas, mungkin liburan tidak termasuk dalam daftar “thing-to-do” mereka. Adalah sebuah tantangan untuk mempengaruhi orang-orang yang memiliki pola pikir seperti ini. Apapun yang anda katakan, sebagus apapun deskripsi anda dalam menjabarkan sebuah daerah, hingga anda harus mengerahkan segenap kemampuan dalam merangkai kata-kata bersayap juga ia tidak akan terperangkap dalam jeratan. Mereka ini tipe manusia cost-savvy, alias perhitungan. Mungkin mereka juga masih menganut paham bahwa liburan termasuk ke dalam kebutuhan tersier. Padahal, ada pergeseran trend di teori Maslow yang menunjukkan bahwa kebutuhan akan liburan termasuk dalam kategori psychological needs, disejajarkan dengan kebutuhan akan seks.
4. Tidak suka jalan-jalan
Mmmm… Ada ga sih tipe yang seperti ini? Atau, ada ga manusia yang ga suka jalan-jalan? Kalau ditilik dari sejarah umat manusia yang gemar melaut dan menyambangi daerah-daerah baru, harusnya sebagai manusia modern dengan alat transportasi yang semakin canggih dan jarak yang semakin pendek, tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak menyukai jalan-jalan. Namun, tentu saja ada orang seperti ini. Menarik, dan apabila anda berhasil merayu si tipe ga suka jalan ini, anda akan memperoleh kepuasan tersendiri.
Ada seribu satu alasan untuk menolak undangan jalan-jalan memang. Apapun itu, meskipun kesal karena ditolak (hehehe), saya berusaha memahami. Toh dulu saya juga sering nolak pas diajak liburan.
Jadi, ketika anda mengajak seseorang dan ia menjawab dengan, “Eeeeerrr…”, bersiap-siaplah menerima penolakan, teman! Namun jangan pernah patah semangat. Suatu saat nanti, anda pasti akan menemukan teman seperjalanan yang cocok.
Soooo… Siapa yang mau menemani saya jalan weekend ini?
